Rabu, 19 Desember 2012

KUMPULAN MAKALAH



FILSAFAT SAMKHYA
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hinduisme.
Pembimbing. Hj. Siti Nadroh, M. Ag

                                   

Nama : Innani Musyarofah
Nim    : (1111032100041)

Description: C:\Users\TOSHIBA\Documents\Copy of LOGO UIN 1.jpg


         Jurusan Perbandingan Agama
Fakultas Ushuluddin
Universitas Islam Negeri (Uin) Syarif Hidayatullah
Jakarta  2012






KATA PENGANTAR
             Puji dan Syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Sad Darsana ( Filsafat Samkhya ) “, yang mana, Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas diskusi mingguan pada mata kuliah Agama Hindu.
            Dalam penyusunan makalah ini kami berusaha memaparkan dan menjelaskan tentang pengertian Samkhya , Konsep purusa dan prakerti, serta ajaran-ajaran samkhya.  Kami menyadari, tidak ada manusia yang sempurna, sehingga bila terdapat kesalahan, baik dalam penulisan atau dalam pembahasan makalah ini, dimohon kritik dan sarannya. Agar dapat kami jadikan referensi dimasa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk menyumbangkan Ilmu dan Pengetahuan dalam bidang pengkajian
agama Hindu.
Pendahuluan
Ajaran Samkya dan Yoga berpengaruh dalam ajran agama Hindu di Indonesia. Kitab Tatwa Jnana, Wihaspitatwa adalah ajaran Samkya Yoga dalam Sivapaksa. Kedua kitab ini dalam bahasa jaa Kuna. Ajaran Samkya merupakan ajaran yang sudah tua benar usianya. Bukti baik kitab Sruti dan Smiriti maupun pula purana menunjukkan pengaruh ajaran Samkya menurut tradisi pembangunanya Resi Kapila yang menulis Samkya Sutra.
            Namun karya karya tulis Samkya yang sampai kepada kita ialah Samkya Karika karya Iswarakrsna. Inilah karya tulis ajaran Samkya tertua yang kami kenal.
            Menurut keterangan orang pandai kata Samkya Artinya angka, sisti kebenaran yang dipakai untuk menyusun urut-urut kebenaran tertinggi ajaran ini.
Latar Belakang Historis        
            Sejarah mencatat bahwa yoga sudah dimulai sejak tahun 3000 S.M.sumber paling awal  terdapat dalam teks-teks Brahmana yang merupakan bagian pertama dari kitab Rig-veda. Sumber berikutnya adalah kurun Upanishad (800-500S.M.) ini adalah masa keemasan bagi teologi dan filsafat India. Filsafat India kuno mulai dicatat dan dibukukan secara sistematis, sehingga lahirlah serangkayan teks-teks suci yang disebut Upanishad. Kata Upanishad memiliki dua arti, pertama “duduk di kaki sang Guru” untuk memperoleh pengetahuan; kedua “menghilangkan kebodohan sang murid, lewat dibukanya pengetahuan Realitas tertinggi” (Parahman,Supreme Spirit).
Seperti ditunjukan dalam difinisinya, teks-teks Upanishad merupakan dialog-dialog filosofis antara para Rishis, Guru yang sudah tercerahkan dan para murid yang sudah cukup maju. Banyak teks-teks Upanishad digandengkan dengan bagian Brahmana, karena untuk menyederhanakan sisi mistis kitabWeda. Namun pengetahuan tertinggi adalah tentang Yoga masih di ajarkan secara lisan, sehingga kemudian hari banyak yang hilang. Pada tahun 400. S.M, beberapa aliran filsafat yang masih menyimpan teks-teks menyusun kembali sehingga menjadi kumpulan literature besar,yang dikenal sebagai epos-epos heroik, seperti : Mahabharata, Ramayana, dan Purana. Bhagavad-Gita merupakan dari epos Mahabharata.[1]
Triguna
            Prakerti dibangun oleh Triguna yaitu sattwa, rajas, dan tamas. Guna arti unsur atau penyusun.triguna itu tidak bisa diamati dengan indra.  Adanya itu disimpulkan atas objek dunia yang merupaka akibat dari padanya. Karena adanya kesamaan antara akibat dan sebab. Maka kita dapat kita ketahuai sifat-sifat guna itu dari alam yang merupakan wujud hasil daripadanya. Semua objek dunia ini mempunyai tiga sifat yaitu sifat-sifat yang menimbullkan rasa tenang, susah dan netral.
            Nyanyian burung yang menyenangnkan seorang seniman, menyusahkan orang sakit, tak berpengaruh apapun untuk orang sakit, tak berpengaruh apapun untuk orang acuh. Sebab semua sifat ini merupakan suatu sebab, maka sifat-sifat itu terkandung pada sebab itu. Demikian sebab itu terkandung  dalam satwa, rajas dan tama situ.
Sawta adalah suatu praketi yang merupakan alam kesenangan yang ringan, yang tenang bercahaya. Wujudnya berupa kesadaran ringan yang menimbulkan gerak keatas . angina dan air diudara dan semua bentuk kesenangan seperti kepuasan, kegirangan dan sebagainya. rajas adalah unsur benda pada benda ini .  selalu bergerak dan menyebabkan benda-benda ini bergerak, ialah menyebabkan api berkobar, angin merembus , pikiran berkeliaran kesana kemari . ialah menggerakkan sattwa dan tamas untuk melaksanakan tugasnya. Tamas adalah unsur yang menyebabkan sesuatu menjadi pasif dan bersifat negativ. Ia bersifat keras, menentang aktifitas menahan gerak pikiran sehingga menimbulkan kegelapan, kebodohan sehingga mengatur orang pada kebingungan karena menentang aktifitas menyebabkan orang menjadi emas, acuh tak acuh, tidur.
Demikian sifat-sifat triguna itu, maka dalam dunia inipun kita saksikan selalu ada pertentangn dan kerja sama dalam kesatuan. Ketiga triguna ini selalu bersamaan tidak pernah berpisah satu sama lainnya.
Ketiga triguna ini barubah terus menerus , ada dua perubahan triguna. Pada waktu pelayanan masing-masing triguna barubah pada dirinya sendiri, tanpa mengganggu yang lain. Perubahan seperti ini disebut swarupaparinama. Pada waktu demikian tak mungkin ada ciptaan, karena tidak ada kerja sama antara guna-guna itu. Namun bila guna menguasai yang lain, maka terjadilah suatu penciptaan.  Perubahan ini disebut wirupaparinama.[2]
Evolusi Alam Semesta
            Prakerti akan mengembang menjadi alam ini bila berhubungan dengan purusa. Melalui hubungan ini prakerti dipengaruhi oleh purusa seperti halnya anggota badan kita dapat bergerak karena hadirnya pikiran.
Evolusi alam semesta tidak mungkin terjadi hanya purusa, karena ia bersifat pasif tidak juga hal itu dapat terjadi karena prakerti ia tanpa kesadaran. Hanya karena hubungan purusa prakerti sejarah dunia ini dapat terjadi hubungan purusa prakerti ini adalah kerja sama orang lumpuh dengan orang buta untuk dapat keluar hutan. Mereka bekerja sama untuk menggapai tujuannya menyebabkan terganggunya.
            Hubungan antara purusa dan prakrti menyebabkan terganggunya keseimbangan dalam triguna. Yang mula-mula tergantung ialah rajas yang menyebabkan guna yang lain ikut tergantung pula. Masing-masing guna itu berusaha mengatasi kekuatan guna lainnya. Maka terjadilah pemisah dan penyatuan triguna itu.
            Yang pertama terjadi dari prakrti ialah Mahad dan Budhi. Mahat adalah beni besar alam semesta ini sedangkan Budhi adalah unsur intelek.
Fungsi Budhi ialah untuk memberikan pertimbangan dan memutuskan segala apa yang datang dari alat-alat yang lebih rendah padanya. Dalam keadaanya yang murni yang bersifat Dharma, Jenana, vairagya dan ais-warya yaitu kebajikan, pengetahuan, tidak bernafsu dan ketuhanan.
Ia berada amat dekat dengan roh, maka ia mencerminkan kesadaran roh. Ahamkara atau rasa aku adalah mahat dan merupakan manifestasi pertama dari mahat. Sedangkan fungsi Ahamakara ialah merasakan rasa aku. Ada tiga macam Ahamakara sesuai dengan guna mana yang lebih unggul dalam keinginan itu.
Panca tanmatra adalah sari-sari benih suara. Sentuhan, warna, rasa dan bau. Semua ini hanya diketahui orang akibat yang ditimbulkanya, sedang ia sendiri tidak dapat dikenal karena amat halusnya.
Dari benih suara terjadilah Akasa. Dari benih sentuhan dan suara terjadilah udara. Dari benih warna, suara dan sentuhan terjadi cahaya atau api. Dari benih suara, suara dan sentuhan dan warna terjadilah air. Dan dari benih baud an empat tanmatra yang lain terjadi dialah bumi.
Dari semua anasir kasar itu berkembanglah alama semesta alam dan segala isinya, namun dalam perkembangan ini tidak menimbulkan azas-azas baru lagi seperti perkembangan mahat. Alam semesta adalah benda-benda yang dijadikan bukan benda-benda menjadikan. Evolusi prakerti  menjadi dua objek memungkinkan roh nikmat atau menderita sesuai dengan baik buruk perbuatannya. Namun tujuan akhir Evolusi yaitu kelepasan.[3]
Perkembangan alam semesta dengan segala isinya, bumi dengan gunung-gunungnya, dengan sungai-sungainya, pohon-pohonnya, binatang-binatangnya, manusia-manusianya yang segala hidup dan lain sebagainya. Semua itu hasil dari perubahan yang terjadi dari prakrti. Akan tetapi perkembangan yang terakhir ini lain daripada perkembangan yang pertama, yang terjadi mulai dari mahat hingga anasir kasar. Sebab perkembangan yang terakhirr ini tidak menimbulkan asas-asa baru seperti yang terjadi pada mahat, ahamkara dan seterusnya, dimana setiap kali ada mahat  baru yang dilahirkan.  Terjadinya gunung-gunung, sungai-sungai dan sebagainya itu semata-mata adalah hasil penyusunan analisir kasar itu dengan cara yang bermacam-macam. Demikianlah halnya dengan alam semesta yang beranika ragam ini.di dalam perkembangan yang terakhir terjadi bermacam-macam perubahan.di dan perkembangan itusenantiasa bergantian di dalam batas-batas suatau masa.
Segala sesuatu yang dirajai oleh tomas kebanyakan termasuk dunia benda, diantaranya ada sebagian yang termasuk bingakai tubuh kita artinya bersifat madani atau fisis dan semua itu dilahirkan dari prakrti.[4]



DAFTAR PUSTAKA
            Ali Matius, Filsafat India Sebuah Pengantar Hindu dan Buddisme , Tangerang: Sanggar Luxor, 2010
            AdiPutra Gede Rudia, Tattwa Darsana, Jakarta: Yayasan dharma sarathi, 1990
            Hadiwijono Harun, Sari Filsafat India, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985





[1]  Matius Ali, Filsafat India Sebuah Pengantar Hinduisme dan Budhisme,  hal 41
[2] Dede Rudia Adiputra, Tattwa Darsana,  hal 47
[3]  Dede Rudia Adiputra, Tattwa Darsana,  hal 52
[4]  Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, hal 63

Tidak ada komentar:

Posting Komentar